Kesiapan perguruan tinggi menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, masih sangat minim

Kesiapan perguruan tinggi menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 dinilai masih masih sangat minim. Bahkan, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi), Edi Suwandi Hamid, menilai, akan banyak perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) gulung tikar akibat tak siap menghadapi persaingan global.

“Tak menutup kemungkinan ada PTN maupun PTS yang gulung tikar karena tak siap dengan gempuran universitas dari negara lainnya saat MEA diberlakukan,” kata Edi.

Menurutnya, perguruan tinggi di Indonesia harus mempersiapkan diri dengan meningkatkan kualitas. Selain itu, pemerintah juga harus bertanggung jawab dalam mengembangkan PTN dan PTS di tanah air, dengan mengarahkan pembangunan perguruan tinggi di luar Jawa.

Aptisi mencatat, pada 2014 jumlah perguruan tinggi mencapai 3.485, dengan PTN berjumlah 100 (tiga persen) yang menampung mahasiswa sekitar 35 persen atau 1.541.261 orang, serta sebanyak 3.385 (97 persen) merupakan PTS dengan menampung mahasiswa sebanyak 2.825.466 orang (65 persen).

Pengamat pendidikan, Ari S Widodo, mengatakan, pemberlakuan MEA akan berdampak pada masuknya warga negara asing ke tanah air. Mereka akan bersaing secara bebas dengan segal potensi pendidikan lokal. Untuk itu, dibutuhkan kualitas mumpuni dengan penguasaan bahasa internasional yang baik.

“Dengan masuknya orang-orang asing itu, kita perlu benteng yang kuat pada ciri khas dan kebudayaan Indonesia. Tak hanya itu, pemahaman terhadap bahasa pun layak ditingkatkan, sebab perguruan tinggi yang masih belum memperkuat penguasaan bahasa internasional akan sepi peminat,” kepada Harian Terbit, Rabu (22/10/2014).

Praktisi sekaligus pemerhati pendidikan ini menegaskan, PTN dan PTS yang tidak membuka diri dan memperbaiki mutu akan ditinggalkan peminat. Dia juga mendesak pemerintah untuk melakukan penyetaraan dengan sertifikasi dan perbaikan infrastruktur, kualitas pengajar, serta pemberian beasiswa.

“Kerja sama semua aspek untuk memperbaiki mutu supaya tetap ada peminat. Selain itu, untuk penelitian harus diberikan banyak tempat, baik yang bersifat aplikatif atau pengembangan ilmu pengetahuan,” jelasnya.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komisi Nasional (Komnas) Pendidikan, Andreas Tambah, menambahkan, menjelang MEA 2015, perguruan tinggi harus menyiapkan lulusan yang berdaya saing pada tempat strategis. Pasalnya, lulusan perguruan tinggi akan menjadi sorotan, terlebih bagi yang memiliki akreditasi baik.

“Produk dari perguruan tinggi harus lebih baik lagi dari saat ini. Mungkin MEA tahun depan akan dibuka, tapi saya kira tidak akan serta merta langsung membanjiri Indonesia. Ada tahapannya, namun kita harus cepat tanggap,” jelasnya

Sementara itu, Direktur Jenderal Perguruan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Djoko Susanto, tak menampik persaingan akan semakin pada saat MEA diberlakukan. Namun, dia membantah akan banyak PTN dan PTS gulung tikar, jika kualitas mereka mampu bertahan bahkan lebih baik dari saat ini.

“Kalau soal itu kan prediksi, jadi tidak bisa dipastikan. Karena kita juga selalu memperbaiki mutu,” ungkapnya.

Mantan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengatakan, seluruh PTN dan PTS sudah didorong melakukan akreditasi melalui Badan Akresitasi Nasional Perguran Tinggi (BANPT). Hal tersebut merupakan salah satu cara pemerintah menaikkan mutu perguruan tinggi.

“Yang baru hangat kami urus adalah fakultas kedokteran yang dikuatkan mutunya, lalu setelah ini fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP), lainnya bakal menyusul nanti,” tuturnya.

Menurut lelaki berkacamata ini, jika kualitas suatu perguruan tinggi masih kurang baik maka akan diberikan bantuan dan pembinaan untuk menaikkan mutu. “Tidak serta merta kita tutup saja, itu bukan membina,” katanya.

Dia juga menegaskan, pembangunan dan pemantauan PTN dan PTS di luar Pulau Jawa sudah dilakukan sejak dulu. Namun, dia mengakui pada realisasinya mengalami banya kendala. “Sampai saat ini memang masih saya lakukan perbaikan,” tandasnya.

About

View all posts by

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *